Kamis, 10 November 2011
Jumat, 21 Oktober 2011
Hour-Glass #1 Flat
Tap..tap.. tap… Hari ini seperti biasa, bergerak pelan di tengah derasnya suasana pagi. Mereka focus dengan tujuan mereka hari ini, aku hanya mengikuti garis hidup yang panjang di ujung sana selangkah demi selangkah aku percaya kemanapun kakiku melangkah disana selalu ada pijakan yang menungguku.
Sekolah, gedung yang begitu diam, aku di tengah para anak bodoh yang mengharap sesuatu dari penjara tak berstatus ini. Sudah dua tahun aku selalu mengikuti nalar bodohku Sekolah, datang duduk, dan menerima semua yang ada. aku tidak memiliki seseorang yang disebut dengan teman, bagiku pikiran dan ragaku adalah hal yang ku miliki.
“Fadhil.... Fadhil” seru wanita tua di sudut meja kelas. Seperti biasa ia membaca kertas yang bertuliskan nama kami. Ak,u hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Aku tak tahu dan tak mau tahu mengapa semua orang menjauhiku tapi bagiku itu lebih baik daripada aku harus terlibat dalam hidup mereka yang begitu tak kumengerti.
“hari ini kita akan belajar mengenai peluang dimana skala probabilitas suatu kejadian adalah 0 hingga 1. 0 adalah kemustahilan dan 1 adalah kepastian……..”
Treng..treng..treng.. istirahat berbunyi. “hah?” seruku dalam hati. Secepat ini, apakah aku termenung terlalu dalam hingga waktu 120 menit tak terasa ataukah wanita tua itu yang terlalu cepat.
Akhir-akhir ini aku selalu merasakan hal yang aneh dengan waktu di sekitarku. Tapi ada yang lebih aneh dari hal itu, aku sudah mulai memikirkan hal-hal kecil seperti itu, entahlah apakah ini akibat dari factor biologis dalam diriku yang sudah mulai bergejolak memperlihatkan wujudnya kepadaku.
Treng..treng… waktu pulang, tak terasa, sejak tadi aku hanya memandang sekumpulan dandelion di balik jendela. Seperti biasa tas yang dari tadi pagi dipunggungku ini hanya sebuah formalitas belaka. Pulang ke rumah adalah suatu hal yang tak lebih dari saat aku meninggalkannya. Aku tumbuh di tengah masyarakat yang tertutup, misterius dan penuh rahasia.
Perjalanan dari penjara menuju penjara, Senja di batas cahaya, mengantarkan dunia menuju suatu kegelapan yang sangat pekat, hembusan angin seolah menuntunku ke suatu arah, arah dimana aku sendiri pun tak mengetahuinya, dedaunan jatuh berguguran mewakili hidup yang tak abadi, sinar matahari sore yang sesekali memperlihatkan cahayanya di antara celah dedaunan di atasku. Pandanganku tiba-tiba terpaku pada sesosok bayangan di ujung persimpangan itu, sosok kakek kurus dengan tongkat di genggamannya seolah menungguku di sana.
“Ada apa ini?” tiba-tiba entah mengapa langkahku semakin cepat seolah-olah ada yang menggerakkannya dan rasanya seperti tertarik. Aku tak bisa mengendalikannya, kakiku bertindak sendiri, sekuat apapun aku menahannya, sekuat itu pula kakiku menolaknya. Sepertinya bayangan lelaki tua itu memandang ke arahku, matahari senja di belakangnya membuatnya tak begitu jelas. aku yakin dia melihatku bertingkah tak wajar namun dia hanya diam tak bergerak sama sekali. Tiba-tiba kaki yang memaksaku bergerak tadi berhenti di tengah persimpangan dan tepat saat aku menyadari kakiku terhenti dari arah kanan aku mendengar suara mesin yang semakin besar dan semakin mendekat, dan saat aku menoleh, aku melihat bus tengah berada di hadapanku sekarang, yang bisa kulakukan hanyala menutup mataku….
Klik!
“Awas!” teriakan seorang laki-laki yang segera merebahkan tubuhnya ke arahku. Kami terguling ke sisi jalan, ku buka mataku dan melihat ke arah jalan, bus itu terhenti, dan bukan hanya bus, dedaunan yang jatuh pun terhenti. Aku hanya merasakan pelukan seorang laki-laki dengan tubuh yang gemetar “fadhil, kau baik-baik saja?” ucapnya dengan begitu panic.
Klik!
“pip..pip…………” suara klakson mobil yang terlintas begitu cepat mengikis jalanan. Semuanya kembali bergerak “fadhil, kau tidak apa-apa?” aku tak mempedulikannya, aku masih beku dengan kejadian dua detik yang lalu.
“fadhil, kau tidak apa-apa ?” aku langsung bangun dan berdiri menoleh ke seberang jalan. Ya, tak nada bayangan disana, yang terlihat hanyalah matahari yang tengah terbenam.
“Syukurlah, kau tak apa-apa”
Aku mengalihkan pandanganku ke arah laki-laki dengan baju kotor akibat terjatuh tadi.
“Hai, kau tau aku kan? Aku andy teman sekelasmu”
“……………………………………………….”
“Lihat, lututmu terluka, sini biar aku obatin”
“………………………………………………”
“Yap, sudah”
“……………………………………………….”
“Aku akan mengantarmu pulang, aku tau kok tempat tinggal kamu, tenang saja, kau tidak akan kubawa kemana-mana”
“………………………………………………”
“Ini hutan yang menakjubkan bukan? Entah mengapa aku sangat senang dengan hutan ini, rasanya hutan ini menyadari kedatangan kita berdua, aku seperti mendengarnya mengatakan sesuatu, mungkin kau menganggapku aneh, namun aku yakin kau lebih aneh dariku… aku sering mengikutimu saat kau pulang, kau adalah orang yang begitu dingin, aku tak tahu tentang dirimu namun aku tahu sesuatu hal tentangmu, kesepian. Mungkin kau berfikir aku adalah orang yang sok tahu dengan hidupmu, namun sesungguhnya kaulah yang memaksa rasa keingintahuanku tentang kamu begitu besar, apakah aku omonganku membuatmu tersinggung ?”
“…………………………………………………….”
“Aku anggap itu tidak, pertama kali aku melihatmu aku begitu merasakan sesuatu hal, aku membuntutimu sejak kau membuat masalah dengan kediamanmu, saat itu kau……… yap sampai, mungkin kau merasa risih denganmu tapi, aku hanya ingin satu hal…….. menjadi temanmu…………
aku pulang dulu, Istirahatlah yang cukup, sampai jumpa”
“………………………………………………….makasih”
Kalimat pertama yang kulontarkan dengan orang lain setelah peristiwa itu. Aku tak tahu apakah ia mendengarku atau tidak tapi….. Teman ? Benarkah? Ah!!! Hari ini begitu banyak hal yang membingungkanku……..
Sekarang aku tengah berdiri di depan sebuah rumah bata yang sederhana, rumah Bibi Ira, tapi ada yang aneh, entah mengapa ada begitu banyak alas kaki di depan pintu, tidak biasanya Bibi Ira menerima tamu,
Perlahan ku buka pintu, ternyyata bukan hanya ada bibi Ira yang menungguku namun kepala suku dan para tetuah suku juga ada, sekarang semua pandangan tertuju padaku, ada masalah apa ini? Apa yang terjadi sebenarnya?
Langganan:
Komentar (Atom)